Agustus 9, 2026

DPP GRPK Minta Kapolri Usut Kematian Winda Lorenza, Terdapat Banyak Kejanggalan

DPP GRPK Minta Kapolri Usut Kematian Winda Lorenza, Terdapat Banyak Kejanggalan

Foto Ilustrasi Ketua DPP Gerakan Rakyat Pejuang Keadilan ( GRPK ) Abdul Hadi

Sorot Kasus News – Medan : Dewan Pimpinan Pusat ( DPP ) Gerakan Rakyat Pejuang  Keadilan ( GRPK ) meminta Kepolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ambil alih kasus kematian Winda Lorenza, istri anggota Polri yang bertugas di Polsek Medan Sunggal, Polrestabes Medan Polda Sumatera Utara berinisial Bripka IH.

Winda Lorenza (31) ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah di Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, pada Minggu (2/8/2026) yang lalu.

Berdasarkan informasi yang dikutip dilapangan, Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan mengatakan, dugaan sementara, Winda mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri menggunakan pistol jenis revolver milik suaminya berinisial Bripka IH.

Baca Juga :  Paul Tambunan : Winda Meninggal Dibunuh Atau Bunuh Diri, Menggunakan Senpi Milik Suaminya, Oknum Polisi Berpangkat Bripka IH

Namun menurut keterangan dari kuasa hukum keluarga almarhum Winda Lorenza, Paul Tambunan, SH. terdapat banyak kejanggalan atas kematian Winda.

Selain itu, Paul juga sangat menyayangkan atas statemen yang begitu cepat dikeluarkan oleh pihak Kepolisian Polda Sumatera Utara, yang menyebutkan Winda Lorenza meninggal akibat bunuh diri.

“Banyak sekali kejanggalan yang kami lihat, diantaranya kenapa Polisi terkesan buru buru mengatakan kalau Winda meninggal akibat bunu diri” Kesal Paul Tambunan, saat di temui di rumah orang tua almarhum Winda (08/08/2026)

Selain menyebutkan kejanggalan atas pernyataan dari pihak Kepolisian yang dianggap terlalu cepat tanpa melihat fakta yang sebenarnya secara objektif dan berintegritas dengan melihat kondisi jasad korban yang penuh memar dan lebam membiru disekujur tubuh.

Secara rinci, Paul Tambunan mengungkap kejanggalan kejanggan yang ada, mulai dari adanya dugaan intimidasi dari pihak keluarga Bripka IH dengan melarang pihak keluarga mengambil foto atau pun video di lokasi kejadian yang berada dikawasan komplek Bumi Asri Medan ( Red – Rumah Bripka IH ), hingga adanya permintaan yang juga dari salah satu keluarga Bripka IH agar jenasah Winda segera dikebumikan.

“Kalau bisa cepat di make up ( Red – Prosesi Jenasah Umat Kristen ) agar tidak bau, dan langsung saja dikebumikan” ucap Paul menirukan perkataan dari salah satu keluarga Bripka IH. (8/8/2026) saat ditemui di rumah orang tua Winda.

Namun pada saat itu ibu kandung Winda, Yestin Laila menolaknya, hingga akhirnya jenasah Winda disemayamkan di rumah milik orang tuanya yang berada di jalan Perbatan Medan Perjuangan.

Tak hanya itu, Paul Tambunan juga mengatakan, pada jasad Winda ditemukan beberapa lebam dan luka yang di duga adanya penganiayaan yang terjadi sebelum Winda ditemukan meninggal dunia.

“Ada lebam di bagian kelopak matanyanya, luka bekas jahitan di kerongkongan yang ditandai adanya bekas jeratan (Red – Leher di ikat ), lalu di bagian paha ada lebam, lutut kaki, bagian kening sebelah kanan mencekung kedalam, dan dibagian pergelangan kaki ada juga lebam, bagian perut juga ada bekas jahitan” beber paul.

Paul Tambunan juga mengatakan, pihaknya telah melaporkan kasus ini ke Polda Sumut, pada Kamis malam (6/8/2026) dengan bukti nomor laporan LP/B/1286/VIII/2026/SPKT Polda Sumut, tertanggal 6 Agustus 2026.

Sementara, ketua DPP Gerakan Rakyat Pejuang Keadilan ( GRPK ), Abdul Hadi kepada wartawan saat di temui dalam kunjungannya kerumah orang tua Winda mengatakan, akan berkolaborasi dengan pihak pengacara keluarga korban untuk mengungkap kasus kematian Winda yang dianggap janggal.

“In Shaa Allah kita akan kolaborasi dengan tim kuasa hukum keluarga almarhum untuk membuka kasus ini agar terang benderang” ucapnya.

Ia juga menegaskan, DPP GRPK secepatnya akan menyurati Kapoldasu Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit untuk mengambil alih kasus ini ke Mabes Polri.

“Bukan kita tidak percaya dengan kinerja di Kepolisian Polda Sumut ini, tapi demi menjaga nama baik institusi Polri agar tidak menjadi salah tafsir di tengah masyarakat, lebih baik lah tim Laboratorium Forensik Mabes Polri atau tim Labfor internal keluarga yang akan melakukan otopsi ulang pada jenasah” pinta hadi

Ia mengatakan, lebih baik dilakukan otopsi ulang terhadap jenasah Winda, agar kasus ini bisa terungkap secara terang benderang dan transparans agar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dibunuh atau bunuh diri, tutup Hadi.

Yestin Laila, ibu kandung korban, saat di wawancarai oleh wartawan Sorot Kasus News, terlihat masih dengan kondisi syok akibat kepergian Winda untuk selama lama nya, berharap Presiden Prabowo dan Kapolri dapat membantu kasus yang menimpa anaknya.**SKN/Samahato Buulolo

Bagikan Ke :