Sekolah Playgroup Djuwita Batam Bantah Telah Melakukan Buly Teradap Anak
Sorot Kasus News – Batam : Menyikapi beredarnyal isu soal adanya pembualian siswa berinisila RO (2,5) yang terjadi dilingkungan sekolah Playgroup Djuwita Batam, Lidiawati Siadari selaku kepala sekolah membantahnya.
Bantahan ini disampaikan langsung saat konferensi pers yang digelar di lingkungan sekolah Playgroup Djuwita Batam Jl. Anggrek Permai Baloi Indah, Kota Batam. (24/6/2026).
Didampingi kuasa hukumnya, Filemon Halawa Halawa beserta tim mengatakan, Kabar yang saat tengah berkembang tidak berdasar dan telah menimbulkan tekanan psikologis bagi pihak sekolah maupun para guru.
Leo Halawa juga mengatakan, perkara ini sudah dilaporkan kepihak kepolisian Polresta Barelang dan telah di tetapkan satu orang tersangka oleh pihak Polisi.
Dilanjutkannya, Laporan terkait atas dasar adanya dugaan perbuatan melawan hukum dengan melakukan intimidasi dan pengancaman terhadap guru yang dilakukan oleh SS selaku orang tua RU (2,5) bersama 20 orang lainnya yang tak dikenal pada bulan April 2026 yang lalu.
Didepan wartawan, Lidiawati Siadari yang di dampingi pengacaranya menceritakan, Pada tanggal 21 April 2026 yang lalu SS mendatangi sekolah dengan membawa 20 orang untuk mengklarifikasi dugaan adanya pembulian yang terjadi pada anak SS.
Menurutnya, kedatangan rombongan tersebut membuat situasi di sekolah menjadi tidak kondusif dan menimbulkan ketakutan, termasuk bagi anak-anak yang sedang berada di lokasi, sehingga dirinya terpaksa harus melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Barelang.
Secara rinci Lidiawati Siadari menjelaskan, RU (2,5) diterima disekolah Playgroup Djuwita Batam sejak bulan Juli 2025, awalnya semua proses belajar mengajar berjalan lancar dan normal tanpa ada kendala.
Namun pada Oktober 2025, pihak sekolah menerima keluhan dari SS orangtua RU (2,5), terkait adanya dugaan kekerasan terhadap anaknya.
Mendapat adanya laporan tersebut, akhirnya pihak sekolah melakukan pemeriksaan secara internal, termasuk memeriksa rekaman CCTV menanyakan dari guru yang bersangkutan.
“Berdasarkan rekaman CCTV dan pengecekan kami, tidak di temukan adanya peristiwa yang di tuduhkan ke kami” Ucap Lidiawati Siadari.
Lebih lanjutnya Lidiawati Siadari menjelaskan, pada tanggal 7 April 2026, RU (2,5) kondisi emosional anak berubah dan beberapa kali menangis saat berada di sekolah, dan dibawa pulang oleh ibu kandungnya SS.
“Saat itu RU terlihat berubah, ia beberapa kali menangis di sekolah, lalu di bawa pulang oleh ibu nya, sekitar tanggal 7 April 2026, tanggal 8 dan 9 nya RU tidak hadir, tetapi pada tanggal 10 ia hadir, namun dengan kondisi yang sama, ia menangis di sekolah” bebernya.**Skn/Ermansyah/Tim

